Hubungi
Home | Artikel

ARTIKEL PEMANFAATAN BUKU "SIDOARJO TEMPO DOELOE" SEBAGAI SUMBER BELAJAR SISWA


Diposting pada tanggal 8 Desember 2017


PEMANFAATAN BUKU “SIDOARJO TEMPO DOELOE” SEBAGAI SUMBER BELAJAR SISWA

PADA MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA

DI SMK NEGERI 1 DI SIDOARJO

 

 

EKA OCTAVIYANTI ISTIQOMAH, S.Pd

SMK NEGERI 1 SIDOARJO, ekaocta2016gmail.com

 

 

Abstrak: Sejarah adalah modal dasar bagi terbinanya identitas nasional yang merupakan salah satu modal utama dalam membangun bangsa, masa kini maupun di waktu yang akan datang. Keterbatasan kemampuan kita dalam mengamati secara langsung peristiwa-peristiwa masa lampau tersebut dapat kita ketahui dengan bantuan jejak-jejak yang ditinggalkan yang biasa disebut sebagai sumber sejarah. Berawal dari adanya sumber-sumber sejarah itulah sebuah peristiwa dapat direkonstruksi kembali sehingga dapat dipelajari oleh generasi penerus. Kabupaten Sidoarjo tidak seperti daerah lain yang mengunggulkan situs bersejarah sebagai salah satu bahan untuk mengembangkan materi sejarah lokal. Hal ini dikarenakan minimnya keberadaan sumber sejarah tersebut. Adapun cerita sejarah yang bersifat lisan juga belum tentu dapat dibenarkan menjadi dasar materi sejarah lokal bagi siswa khususnya di tingkat SMA/SMK. Dengan diterbitkannya buku Sidoarjo Tempo Doeloe oleh pemerintah Kabupaten Sidoarjo, tentu sangat membantu peserta didik khususnya dalam mengkaji sejarah lokal di Sidoarjo.

Kata-kata kunci: Sidoarjo Tempo Doeloe, sumber sejarah, sejarah Indonesia

KETERBATASAN SUMBER SEJARAH SEBAGAI PEDOMAN MATERI PEMBELAJARAN SEJARAH INDONESIA

Sejarah adalah modal dasar bagi terbinanya identitas nasional yang merupakan salah satu modal utama dalam membangun bangsa, masa kini maupun di waktu yang akan datang. Keterbatasan kemampuan kita dalam mengamati secara langsung peristiwa-peristiwa tersebut dapat kita ketahui masa lampau tersebut dengan bantuan jejak-jejak yang ditinggalkan yang biasa disebut sebagai sumber sejarah. Berawal dari adanya sumber-sumber sejarah itulah sebuah peristiwa dapat direkonstruksi kembali sehingga dapat dipelajari oleh generasi penerus. Namun, dalam skala lokal, keberadaan sumber sejarah sangatlah terbatas. Sehingga dalam pembelajaran sejarah seringkali dihadapkan pada kendala sumber sejarahnya. Padahal dalam pembelajaran sejarah, akan lebih akurat jika disertai bukti-bukti sejarah yang mendukung. Sehingga unsur keilmuannya dapat terpenuhi.

Bagi peserta didik, tidak mudah untuk bisa belajar sejarah. Mereka harus mempelajari masa lalu yang tidak dapat dilihat peristiwanya. Dibutuhkan daya imajinasi tinggi untuk dapat merekonstruksi peristiwa sejarah dalam ingatan peserta didik. Dalam rangka membantu peserta didik melakukan rekonstruksi, diperlukan adanya sumber sejarah yang bisa dijadikan bahan belajar peserta didik, yang mendukung untuk mengantarkan peserta didik melakukan rekonstruksi sebuah peristiwa sejarah.  Selama ini pembelajaran sejarah selalu menggunakan buku paket sebagai acuan dalam belajar di kelas. Bisa juga peserta didik dengan inisiatif sendiri mencari referensi lain di luar buku paket seperti buku penunjang dari berbagai macam penerbit atau juga melalui media internet. Namun di semua sumber dan media belajar seperti itu seringkali menyajikan informasi berupa fakta-fakta sejarah yang sifatnya nasional. Bahkan tidak jarang dalam materi tersebut terdapat informasi yang serupa bahkan cenderung sama. Jarang sekali ditemukan ulasan mengenai sejarah lokal. Peristiwa  sejarah lokal serta peninggalan-peninggalan bersejarahnya jarang diketahui oleh peserta didik. 

Terbatasnya sumber sejarah merupakan salah satu faktor yang menjadikan sejarah lokal belum berkembang dengan baik. Sebagian besar sumber yang tersedia adalah sumber lisan baik itu tradisi lisan (oral tradition) maupun sejarah lisan (oral history). Dalam menggali sejarah lokal di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari apa yang namanya sumber lisan. Kebiasaan untuk menuliskan segala sesuatu yang pernah terjadi di lingkungan sekitarnya belum merupakan suatu keharusan atau kebutuhan yang perlu dilakukan oleh sebagian dari bangsa ini. Tidak heran sumber tertulis mengenai masa lalu suatu komunitas masyarakat di tempat/ lokalitas tertentu sangat-sangat terbatas, bahkan mungkin sumber lisan berupa tradisi lisan adalah satu-satunya akses untuk mendapatkan informasi tersebut.

 

BUKU “SIDOARJO TEMPO DOELOE” SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH BAGI SISWA SMK NEGERI 1 SIDOARJO

Dalam mempelajari sejarah, sangat dibutuhkan sumber sejarah yang dapat membantu proses pembelajaran untuk menambah wawasan peserta didik.. Sumber sejarah tersebut tidak harus berupa artefak, situs atau monumen. Seringkali daerah tidak banyak memiliki peninggalan sejarah yang bisa digunakan sebagai sumber sejarah bagi pembelajaran sejarah lokal. Sidoarjo memang tidak seperti daerah lain yang meninggalkan banyak situs candi dan monument yang bisa dijadikan bahan untuk pembelajaran.

Dengan terbatasnya sumber sejarah sebagai pedoman dalam pembelajaran sejarah lokal, keberadaan buku “Sidoarjo Tempo Doeloe” merupakan jalan pembuka bagi pembelajaran sejarah khususnya di Sidoarjo. Buku setebal 295 halaman ini banyak memuat tentang sejarah lokal di Sidoarjo, yang selama ini tidak diketahui oleh masyarakat luas. Sesuai dengan judulnya, buku ini memuat tentang kondisi Sidoarjo sejak zaman Mpu Sindok sampai dengan masa-masa awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam salah satu bagian di dalam buku ini mengulas tentang sebuah candi yang selama ini sangat jarang diketahui oleh masyarakat Sidoarjo, kecuali masyarakat yang tinggal di desa tersebut. Candi ini bernama Candi Tawangalun. Meski disebut sebagai candi, kondisi fisik Candi Tawangalun yang ada sekarang hanyalah berupa tumpukan batu bata dengan  tinggi sekitar 2,5 meter dan lebar 4x4 meter yang masih berdiri tegak. Dulu ada sebuah papan nama bertuliskan Candi Tawangalun, yang menandakan bangunan ini adalah sebuah candi. Namun belakangan ini papan nama itu malah hilang, yang konon oleh masyarakat setempat hilangnya papan nama itu karena diterjang hujan lebat dan belum ada gantinya.  Sangat ironis jika keberadan candi ini tidak diketahui oleh generasi muda di Sidoarjo. Yang menarik sebenarnya bukan karena candi ini kehilangan papan namanya, tetapi karena asal muasal didirikannya bangunan tersebut. Ada sebuah kepercayaan di kalangan masyarakat bahwa pembangunan candi ini adalah untuk meredam semburan lumpur yang ada di daerah tersebut. Menurut Drs. M. Dwi Cahyono, M.Hum (dalam Widodo, Dukut. 2012) ada semacam kepercayaan bahwa keberadaaan candi memang sengaja dibangun untuk “meredam” kemarahan bumi. Demikian juga dengan candi Tawangalun yang oleh masyarakat setempat dianggap sebagai penahan semburan lumpur agar tidak meluap lebih besar. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa di sekitar bangunan candi memang terdapat puluhan lubang yang mengeluarkan lumpur.

Dengan mengkaitkan peristiwa lumpur Lapindo yang terjadi saat ini dan mengulas sejarah dibangunnya candi Tawangalun, tentunya akan menjadi ulasan yang menarik dalam mempelajari sejarah lokal di wilayah Sidoarjo. Peserta didik akan mampu melakukan analisa terhadap fenomena alam bersejarah yang pernah terjadi di Sidoarjo yang ternyata berkesinambungan dengan peristiwa alam yang terjadi saat ini. Pelajaran sejarah akan mampu menggugah minat peserta didik jika melibatkan rasa penasaran mereka. Kepedulian mereka kepada sejarah lokal daerahnya akan meningkat. Sekali lagi, pelajaran sejarah tidak hanya dongeng bagi mereka, namun akan menjadi sebuah tantangan yang harus dipecahkan melalui pengamatan dan penelitian lebih lanjut.

PENTINGNYA SUMBER SEJARAH BAGI PESERTA DIDIK

Masa kini adalah kesinambungan dari masa lampau dan masa depan adalah kesinambungan dari masa sekarang. Sejarah sebagai sumber inspirasi dan sumber informasi yang terpercaya sangat dibutuhkan keberadaannya oleh masyarakat dalam rangka menemukan dan memupuk jati diri bangsa, untuk mampu merancang dan mempersiapkan kehidupan di masa mendatang yang lebih baik. Dalam mempelajari sejarah, peserta didik akan bosan jika hanya membaca buku paket yang isinya hanya mengulas sejarah nasional. Sedangkan di dalam buku Sidoarjo Tempo Doeloe, banyak peristiwa ataupun peninggalan sejarah yang dipaparkan dan tidak dimunculkan dalam buku paket nasional. Hal ini sangat penting bagi wawasan peserta didik agar lebih memahami dan tahu tentang asal usul daerahnya.

Peserta didik harus diajak untuk mendalami materi sejarah di daerahnya, jangan hanya terpaku pada sejarah nasional yang sudah sejak lama mereka pelajari. Bahkan serigkali materi SMP akan diulas kembali di jenjang SMK. Hal ini tentu sangat merugikan peserta didik. Seharusnya mereka sudah berada di tingkat berfikir analisa. Disinilah potensi mereka harus dikembangkan. Peserta didik diajak untuk mendalami materi sejarah di daerahnya, dilakukan analisa, bahkan tidak menutup kemungkinan mereka ada senang jika dilibatkan dalam sebuah proyek penelitian sejarah. Pembelajaran akan menjadi menyenangkan sekaligus mereka dapat menggali potensi dirinya. Jika hal ini dilakukan di setiap daerah di Indonesia, maka bangsa ini akan memiliki generasi muda yang memiliki jati diri yang kuat. Selain itu, generasi muda Indonesia akan memiliki ketrampilan dalam melakukan penelitian atau analisa. Bukan generasi yang hanya bisa membaca hasil kerja orang lain, tetapi merekalah yang menghasilkan karya.

Generasi muda bangsa harus mampu menjadi generasi unggul yang paham tentang sejarah bangsanya. Pemahaman tentang sejarah yang dimiliki oleh generasi muda bangsa adalah hal utama untuk bisa mencintai tanah air mereka. Satu contoh sebuah peristiwa yang belum banyak diketahui oleh warga atau bahkan generasi muda Sidoarjo adalah Perlawanan Kyai Hasan Mukmin pada tahun 1904 di daerah Gedangan. Dari peristiwa yang ada di buku Sidoarjo Tempo Doeloe ini, peserta didik bisa diajak untuk melakukan analisa mendalam. Bahwa warga Sidoarjo pun sama seperti daerah lain seperti di Yogya dengan Perang Diponegoronya, Minangkabau dengan Perang Padri dan lain sebagainya. Warga Sidoarjo pun punya keberanian untuk melawan kebijakan penjajah Belanda. Ini yang harus dipahami oleh peserta didik, demi mengembangkan potensi besarnya. Baik menganalisa atau bahkan membuat sebuah proyek penelitian sejarah di daerahnya.

Kehebatan generasi muda Indonesia tidak hanya hari ini saja, dengan mempelajari sejarah bangsa ini, mereka akan tahu bahwa generasi pendahulu mereka adalah orang-orang hebat yang sudah mampu membangun sebuah peradaban besar. Dengan bekal inilah generasi saat ini harus mampu mengembalikan kejayaan Indonesia dengan peradaban besar yang sudah diakui dunia seperti di masa lampau.
           

DAFTAR RUJUKAN:

Agus Mulyana, R. G. (2007). "Lingkungan Terdekat; Sumber Belajar Sejarah Lokal", dalam Mulyana, Gunawan (2007). Sejarah Lokal : Penulisan dan Pembelajaran di Sekolah. Bandung: Salamina Press.

 

Panitia Penggali Sedjarah Kabupaten Sidoarjo, 1970. Sedjarah Daerah Kabupaten Sidoardjo. Sidoarjo. Pemerintah Daerah Kabupaten Sidoarjo

 

Nursam, M,  dkk. 2008. Sejarah yang Memihak: Mengenang Sartono Kartodirdjo. Yogyakarta : Ombak

 

Widodo, Dukut Imam dan Henry Nurcahyo. 2012. Sidoardjo Tempo Doeloe. Sidoarjo : Pemerintah Kabupaten Sidoarjo

 

Versi cetak
#"sidoarjo, #artikel, #belajar, #buku, #doeloe", #pemanfaatan, #sebagai, #siswa, #sumber, #tempo

Artikel Terkait